Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Perawatan Mobil’

Dulu saya pernah mendengar ada orang yang bilang bahwa semua mobil tak perduli mereknya, pasti membutuhkan perbakan besar setelah berusia 5 tahun.

Dulu saya tidak percaya mendengar hal itu. Dalam hati saya berkata,” Ah, itu mungkin karena mobilnya tidak dirawat saja, atau mobilnya memang merek abal-abal…”

Sekarang saya mulai mengerti arti kata-kata tersebut. Mobil Xenia saya yang keluaran 2003 beberapa hari terakhir ini mulai menunjukkan gejala mengkhawatirkan, AC-nya mulai tidak dingin. Diawali dari sesekali tidak dingin selama beberapa saat lalu dingin kembali, sampai kemudian sama seali tidak dingin yang sebelumnya diawali dengan terdengar suara mendesis yang cukup keras dari bagian mesin selama beberapa saat. Setelah itu tamatlah nasib udara dingin yang biasa keluar dari AC mobil saya.

Berkendaraan di Jakarta tanpa AC tentunya bukan hal yang menyenangkan, ditambah dengan polusi dari asap kendaraan bermotor lainnya, debu yang tidak pernah habis dan yang lebih berbahaya lagi, sekarang sudah masuk musim hujan. Jelas bukan hal yang aman dan nyaman untuk berkendara di dalam mobil yang kacanya berkabut saat hujan.

Jadi, begitu ada waktu, saya langsung mencoba mencari bengkel AC terdekat yang kelihatannya bisa dipercaya di dekat rumah. Saya berpikir masalah AC ini kemungkinan dikarenakan freon-nya yang habis (pengalaman dulu juga biasanya begitu).

Setelah memilih bengkel yang kira-kira layak saya memeriksakan AC mobil saya. Montir mulai memeriksa tekanan freon dan ketersediaan aliran listrik yang keduanya masih OK, artinya freon penuh, kompresor terdiagnosa baik-baik saja. Lalu montir memeriksa satu bagian yang belum pernah saya lihat sebelumnya, suatu bagian di bagian bawah mesin dan terhubung dengan tali kipas. Bagian tersebut tidak menunjukkan respon adanya aliran listrik dan ternyata di situlah sumber masalahnya.

Saya masih belum jelas nama bagian itu apa, yang pasti itu merupakan suatu komponen yang terdiri dari magnet, piringan berputar (bentuknya seperti cakram rem) dan satu bagian penutup yang tersambung ke kabel. Montir menyebutnya ”magnet AC”.

Awalnya saya sedikit tidak percaya karena seumur-umur belum pernah mendengar ada komponen itu di sistem AC mobil (sok tahu, ya?). Tapi kemudian ada seorang Bapak yang ikutan nimbrung melihat mesin mobil saya dan ternyata dia pemilik mobil Honda CR-V yang diparkir di sebelah saya dan AC-nya juga sedang diperbaiki. Dari ngobrol dengan Bapak ini, saya akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa memang magnet AC mobil saya rusak dan memang ada komponen tersebut di sistem AC mobil.

Yang saya masih tidak bisa terima adalah BIAYANYA. Bayangkan, untuk mengganti 1 komponen magnet lengkap, harganya Rp 600rb, isi freon (karena pasti harus dikosongkan saat proses penggantian) Rp 150rb ditambah biaya servis Rp 75rb total biaya Rp 825rb. Itupun kalau menggunakan komponen tidak asli. Komponen asli berharga Rp 900rb jadi totalnya Rp 1.125rb. Hwaduh, ya terpaksa ditunda dulu. Jadilah saya dan istri bersiap-siap naik mobil tanpa AC selama beberapa hari sampai gajian J.

Sebagain tambahan, ternyata sistem AC kurang lebih terdiri dari: Magnet – kompresor – perpipaan – kelistrikan – freon. Hmm, mungkin ada yang belum masuk, ya, tapi kurang lebih seperti ini yang ditangkap dari ngobrol dengan montir (maklum, ga ngerti mesin). Jadi lain kali ga terlalu kaget lagi kalau ada komponen mesin yang rusak.

Iklan

Read Full Post »


Beberapa hari terakhir ini lampu mobil saya ”picek” alias mati sebelah. Awalnya karena yang sebelah kanan masih berfungsi, saya biarkan saja berkendaraan malam hari dengan kondisi lampu mati sebelah, toh saya masih bisa melihat jalan di depan saya dengan jelas. Tapi setelah beberapa waktu, saya makin menyadari pentingnya 2 lampu berfungsi dengan baik pada mobil, terutama karena hal-hal berikut:

  1. Pandangan kita jadi terbatas karena hanya 1 lampu yang berfungsi.
  2. Sering kali mobil yang akan kita salip tidak bisa menyadari bahwa yang akan menyalipnya adalah mobil karena hanya terlihat 1 lampu.
  3. Kalau lampu yang mati sebelah kiri – seperti mobil saya – ternyata dapat membuat mobil di kiri saya kesulitan memperkirakan jarak mobilnya dengan mobil saya, karena bagian mobil sebelah kiri mobil saya ”gelap”.
  4. Lebih berbahaya lagi saat sedang menyalip dan berpapasan dengan kendaraan lain dari depan, motor atau mobil. Mereka sering kaget begitu mengetahui ternyata kendaraan kita adalah mobil yang jelas memenuhi 1 jalur jalan.

Singkat kata, karena sudah mulai merasa tidak nyaman dan tidak aman, saya memutuskan untuk membeli lampu mobil.

Karena tinggal di Cibubur, saya memutuskan mengunjungi bengkel mobil di kawasan Cibubur Point. Tempat ini tidak terlalu ramai (kalau tidak mau dibilang sepi) tapi tampaknya memiliki beberapa bengkel mobil untuk perbaikan ringan.

Saya lalu memarkir mobil di depan sebuah toko onderdil yang cukup besar dibanding toko yang lain.

Begitu turun saya langsung disapa seorang montir yang menanyakan keperluan saya. Setelah tahu keperluannya, dia langsung meminta saya membuka kap mesin danmencoba lampu. Kemudian montir tersebut meminta lampu kepada penjaga toko yang sepertinya sudah dikenal baik.

Awalnya mereka mencoba mengganti bola lampu yang mati tersebut dengan merek yang sama. Merek tersebut juga sama dengan merek lampu yang sebelah kanan. Tapi ternyata kedua lampu tidak sama terang. Entah kenapa, walau merek dan tipenya sama, lampu yang baru diganti terlihat lebih redup dari yang kanan. ”Hmmm, mungkin karena ada yang salah dengan aliran listriknya?”, pikir saya, tapi ternyata si montir tidak memerdulikan hal itu bahkan setelah saya mengutarakan ide tersebut. Ya sudah, tak apa.

Lalu si montir mencoba menawarkan lampu halogen, di kardusnya berkode H4. Langsung saya tolak, alasannya di kardus lampu tersebut jelas-jelas tertera ”not approved for public roads”, artinya lampu ini tidak diijinkan untuk digunakan di jalanan umum. Setelah saya jelaskan hal ini lalu si montir mengganti dengan lampu biasa merek OSHRAM. Ya sudah, walau tidak sama dengan merek lampu yang kanan, yang penting terangnya hampir sama.

Setelah dicoba beberapa kali dan menyala dengan baik, saya puas. Tapi ternyata ada kejutan buat saya. Sewaktu saya tanya harganya ke montir itu dia bilang ”semuanya 45 ribu”. Hah? Saya tahu harga lampu tersebut tidak sampai 20 ribu dan lampu halogen sekitar 35 – 50 rb, kalau ditambah ongkos montir saya pikir 35 rb masih wajar. He3… si montir cuman beralasan ”soalnya lampunya sudah yang 100 watt…”. Padahal beberapa minggu yang lalu saat saya mengganti 2 lampu mobil saya dari lampu halogen ke lampu biasa, semuanya hanya menghabiskan biaya 40 ribu rupiah.

Memang seharusnya di bengkel seperti ini saya langsung mendatangi toko, memilih barangnya dulu, baru minta dipasangkan lampunya. Begitu aturan tidak resminya, terutama kalau mau dapat harga murah. Yah, kali ini saya malas repot-repot nawar. Tapi lain kali… 🙂

Read Full Post »